Alhamdulillah, “tamu istimewa” yang dinantikan itu akan segera hadir kembali membersamai kita: Ramadhan. Kali ini menjadi lebih “istimewa” karena saat ini kita –kecuali yang sudah menetap di sini- pun sedang “bertamu” ke negeri orang. Menjadi lebih istimewa lagi karena di negeri yang kita tamui ini, banyak yang tidak mengenal Ramadhan atau puasa. Kalau di tanah air, keriuhan sebelum sahur sudah membangunkan kita untuk segera bersiap-siap. Aktivitas Islami pun merebak. Bahkan artis-artis sinetron pun sudah mulai berkerudung. Di sini, paling-paling kita mendapatkan tatapan mata penuh kasihan: “Kawaiso ne…”, kalau kita terlihat lemas di lab atau di kantor lalu beralasan: “saya sedang puasa (danjiki).”
Bagaimana supaya kita tidak terlihat ngenes dan lemes dihadapan orang-orang Jepang sehingga membuat Islam terkesan sebagai agama yang memberatkan? Bagaimana supaya kita tidak memalukan para pendahulu kita yang membalik sejarah di tengah-tengah kerontang Ramadhan yang mereka lalui: di Badar, Fathul Makkah, Ain Jalut (saat Syaifuddin Quthz mengalahkan pasukan Tatar), Pembebasan Jerusalem (oleh Shalahuddin Al Ayyubi), dan –tentu saja- kemerdekaan Indonesia?
(PS: Coba bayangkan kalau para pejuang kemerdekaan yang sedang menyiapkan proklamasi kemerdekaan tiba-tiba bilang sama Laksamana Maeda yang menyuguhkan sahur: “Bro, kita lagi Ramadhan nih. Kita tunda aja ya kemerdekaan Indonesia.”)
Tulisan pendek ini ditulis untuk menjadi pengantar diskusi bersama untuk mencoba mencari cara yang pas untuk menyiapkan Ramadhan di Jepang. Semoga bermanfaat.
Langkah Pertama: Bergembira
Kata Nabi Muhammad SAW, segala sesuatu berawal dari niatnya. Sementara itu, niat terbentuk oleh persepsi yang melingkupi. Karena itu, langkah paling awal untuk mempersiapkan Ramadhan adalah memperbaiki persepsi kita tentang Ramadhan. Persepsi “Ramadhan berat, apalagi di Jepang!” akan membantu kita membuat daftar keluhan dan keluhan dalam menjalaninya, sementara “Wah, asyik, ternyata di Jepang pun kita bisa menikmati Ramadhan!” akan membantu kita menikmati ibadah di bulan ini:
“Jika Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah yang Maha Besar Subhanahu Wa Ta’ala, ‘Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Wahai pencari kebaikan, kemarilah!”
(Shahih, diriwatkan oleh Bukhori dan Muslim)
Memahaminya sebagai Kesempatan…
Penting untuk memahami Ramadhan sebagai kesempatan yang harus disyukuri. Beberapa keistimewaan Ramadhan:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sholat lima waktu, dari jum’at menuju Jum’at berikutnya, dari Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR Muslim)
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS Al-Baqoroh: 185)
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridho Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Kedua: Persiapkan
“Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin” (Ibnu Khuzaimah III/192, Ahmad II/246&254)
Kalau ada kesempatan menendang penalti di final Piala Eropa lalu gagal, pasti rasanya sedih sekali. Untuk itu, para pemain yang berlaga pasti berlatih untuk memastikan bahwa kondisi mereka prima. Kalau untuk main bola saja butuh persiapan, apatah lagi dengan Ramadhan?
Ada beberapa jenis persiapan yang penting:
1) Persiapan ruhiyah (spiritual): supaya kita dapat memaknai ramadhan dengan baik. Sensitif dengan peluang kebaikan.
2) Persiapan fikriyah (ilmu): ilmu qobla ‘amal wa qaul. Ilmu dulu sebelum perkataan dan perbuatan. Baca buku, ikut kajian, surfing di internet, dst. Ketahui fiqh puasa (apa itu puasa, apa yang membatalkan, apa yang merusak, dst).
3) Persiapan jasadiyah (fisik): Nabi paling banyak berpuasa di luar Ramadhan pada bulan Sya’ban.
4) Persiapan maaliyah (finansial): Rasulullah adalah orang paling dermawan. Ketika Ramadhan, para shahabat bahkan melihatnya menjadi lebih dermawan lagi!
5) Persiapan lingkungan: Kondisikan lingkungan sekitar untuk nyaman beribadah. Kebersihan, nuansa, semangat di keluarga, dst.
Ketiga: Rencanakan
Start from the end of mind, kata Stephen Covey. Mulai dari akhir pikiran. Kalau kita tidak tahu tujuan kita dan rencana untuk mencapainya, kita tidak akan ke mana-mana. Coba bayangkan reaksi petugas check in kalau kita sudah bawa koper berkilo-kilo ke Kansai Kuuko lalu kita ngomong dengan santai ke petugas check in secara acak: “Halo Om, saya udah siap berangkat nih. Nebeng dong naik pesawat. Diturunin ke mana aja daijobu.”
Ber-Ramadhan pun demikian. Pastikan kita tahu tujuannya (yaitu “Taqwa”), ada di mana tingkat ketaqwaan kita sendiri saat ini (“hisablah dirimu sebelum dihisab”), lalu bagaimana kita dapat mengisi Ramadhan dengan efektif (ketahui amalan-amalan utama, lihat kondisi kita, lalu rencanakan dengan baik).
“Barangsiapa tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, Allah akan menyibukkannya dengan kemaksiatan…”
-Imam Syafi’i
Keempat: Optimalkan
Manfaatkan semua peluang untuk berbuat kebaikan (walaupun tak ada rencana sebelumnya, seperti saat nunggu bus atau kereta), karena kebaikan di bulan Ramadhan dilipat gandakan. Ada hadits panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari sahabat Salman Al-Farisi. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda mengenai pahala bulan Ramadhan yang luar biasa. Begini sabda manusia teragung itu: “…Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan satu perbuatan baik di dalamnya, dia bagaikan melakukan satu kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa melakukan satu kewajiban pada bulan ini maka dia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan yang lain…” Kata Rasulullah lagi: “Sekali bacaan tasbih di bulan ramadhan lebih utama dari seribu kali tasbih di bulan-bulan lainnya…” (HR Turmudzi)
Kalau ada kesempatan, dari pada masak buat diri sendiri mendingan sekalian masak untuk saudara-saudara kita yang tidak sempat masak:
“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” [HR. At Tirmidzi no.807, ia berkata: “Hasan shahih”]
Kelima: Mencoba Memaknai
Kata Nabi Muhammad SAW, ada yang berpuasa namun tak ada yang didapatkan kecuali lapar dan dahaga. Jangan sampai puasa kita (dan ibadah penghias Ramadhan lainnya yang kita rencanakan) kehilangan makna dan hanya sekedar jadi aktivitas kosong semata. Di tengah-tengah dunia yang bergerak semakin kencang ini, Ramadhan menjadi momentum untuk kembali menginsafi tujuan kita hidup di dunia dan bagaimana kita berinteraksi dengan semesta. Mari mengingat bahwa salah satu ukuran ketakwaan, tunjuk Nabi Muhammad SAW, adalah “bermanfaat bagi sesamanya.” Puasa dan aktivitas Ramadhan kita harus membekas dalam bentuk pribadi yang lebih baik: lebih ikhlas, lebih optimis, lebih percaya diri, lebih peduli, lebih bermanfaat.
“Jangan marah,” Nabi pernah bersabda, ” bagimu jannah (surga)”. Nasehat yang kelihatannya sederhana, namun rupanya banyak berpengaruh pada bagaimana jalannya kehidupan kita. Nasehat ini juga mengenai untuk kita sebagai individu maupun sebagai komunitas, umat dan bangsa.
Pernah marah lalu melakukan sesuatu yang membuat kita menyesalinya kemudian? Ketika dikuasai amarah, kita cenderung kehilangan kejernihan. Keputusan-keputusan yang diambil seringkali tidak diperhitungkan baik buruk, benar salah, dan tepat tidaknya. Saat marah, kita memang lebih berani, namun kadang mematikan nurani.
Kemarahan publik Amerika setelah peristiwa 11 September menjadi pencipta momentum bagi angkara. Butuh dua periode untuk menurunkan presiden yang menjual perang dalam kampanyenya itu untuk turun. Bahkan, presiden yang hadir menjanjikan perubahan pun masih melanjutkan pertunjukan kematian.
Pun dengan kabar yang baru-baru ini kita dengar dari Perancis. Marahnya Muhammad Merah membuatnya ringan saja membunuh beberapa anak kecil di sekolah. Walaupun latar belakang marahnya dapat kita pahami (penjajahan dan pembantaian di Afghanistan dan Irak oleh pasukan sekutu), sebagaimana kita juga memahami perasaan bangsa Amerika saat 11 September merenggut nyawa saudara-saudara mereka, kita semua tercabik dan mengutuk kemarahan yang tidak pada tempatnya itu.
Sayangnya, mudah dikuasai amarah adalah penyakit yang menghinggapi orang-orang kalah dan terjajah. Padahal, ketika dikuasai amarah, kita justru semakin tenggelam dalam kekalahan.
Lalu apakah tidak boleh marah? Tidak juga. Nabi juga pernah menunjukkan kemarahan. Sabdanya menunjukkan keutamaan mengendalikan amarah secara umum, tidak mutlak mengharamkannya dalam waktu-waktu tertentu. Marah justru menjadi harus pada saat-saat tertentu. Namun, mengelola dengan jernih dan memilih bagaimana mengekspresikannya dengan tepat di saat yang tepat adalah sebuah keutamaan tersendiri.
Saat kita melihat ada yang dizalimi, kecintaan pada keadilan mengharuskan kita marah. Tapi bisakah kita tetap jernih mengatur langkah? Tepatkah cara kita marah?
Saya kira, mengelola amarah adalah salah satu elemen penting yang harus dipelajari oleh setiap gerakan perubahan.
(Balasan untuk gagasan Mas Agung Baskoro, sekaligus mungkin masukan saya untuk rapat tim yang pertama.)
Kita mulai dari titik temu sederhana: Apa sih yang kita inginkan?
Sampai saat ini, visi Indonesia masa depan yang disusun anak muda dan berbicara pada anak muda belum ada. Kita ingin adanya sebuah gambaran tentang Indonesia yang kita harapkan di masa depan. Untuk memberi arah, sehingga kabut yang sering hadir dalam hari-hari kita sekarang tak menghalangi kita maju melangkah.
Yang kita harapkan bukan pameran kutukan, tapi juga bukan khayalan optimis tak berlandasan. Lebih jauh lagi, kita menginginkan bahwa hasil dari upaya ini (entah nanti disepakati jadi sekedar tim kecil penyusun gagasan Indonesia Masa Depan atau jadi event besar yang melibatkan banyak orang) menggerakkan anak2 muda untuk bergerak menuju visi besar tersebut.
Produk:
A. Buku/Blue Print
Saya berpikir bahwa selain disusun dengan perspektif anak muda, ia juga harus berbicara dalam bahasa anak muda yang sederhana. Bukan jargon2 ilmuwan yang teknis, meskipun harus disusun secara ilmiah. Ia harus menjadi dokumen yang ‘hidup’, berbicara dan menggerakkan.
Bayangan sementara untuk strukturnya (berdasarkan penulisannya di dokumen hasil):
1. Bisa dibagi ke dalam berbagai sektor.
2. Di masing2 sektor, langsung masuk dengan gambaran Indonesia di tahun 2030 yang kita cita2 kan.
3. Setelah itu masuk ke pembahasan filosofis dan historisnya yang ada di janji kemerdekaan/gagasan para founding fathers.
4. Lalu masuk ke pembahasan kondisi hari ini. Bisa kita masukkan wawancara dengan pemimpin hari ini.
5. Bikin list peluang dan tantangan
6. Bikin list apa yang bisa kita lakukan. Bisa kita masukkan contoh2 riil yang sudah dilakukan anak2 muda di bidang tersebut.
B. Event
Ada 2 alternatif: event sebagai penyebaran gagasan atau event sebagai proses mematangkan gagasan.
Jika sumber daya kita memungkinkan, saya memilih yang kedua.
Pertanyaan berikutnya kalau kita pilih yang kedua: kita akan menyelenggarakannya dengan platform apa? Apakah lembaga baru (kita sendiri), memanfaatkan yang sudah mapan, atau gabungan beberapa lembaga mapan? Atau, bentuknya kerja sama. kita kerja sama minta satu sesi di kegiatan platform2 yg udah mapan seperti ppsdms (di latgab tahunan) atau fim misalnya.
Untuk sementara, itu dulu.
Ps: banyak yang berminat bergabung. Saya kira niat baik harus disambut, walaupun memang harus selektif untuk core teamnya.
Tak seperti tahun lalu, kita membuka tahun 2012 dengan pesimisme. Indeks Kepercayaan Global (Global Confidence Index) yang dirilis Forum Ekonomi Dunia januari ini menunjukkan bahwa banyak yang ragu tahun ini akan dapat kita lewati dengan tenang. Selain menguatirkan krisis ekonomi yang tak kunjung usai, 54% dari 1200 responden yang merupakan tokoh-tokoh dunia terkemuka yang disurvei menyatakan bahwa mereka memperkirakan meletusnya sebuah guncangan geopolitik dalam 12 bulan ke depan.
Kita semua tahu apa guncangan yang dimaksud: kemungkinan Amerika Serikat (atau Israel) melakukan serangan terhadap Iran. Sampai sekarang, tekanan dari Washington masih berupa embargo ekonomi. Namun, genderang perang sudah ditabuh.
Penjelasan mengenai sikap Amerika Serikat terhadap Iran yang mengeras akhir-akhir ini sering diulas dengan mencermati dua aras analisis: politik domestik Amerika Serikat (berkaitan dengan semacam “adu jantan” di antara kandidat presiden atau kuatnya lobi Israel di negara adidaya tersebut) dan politik regional (Israel yang gelisah dengan perubahan peta politik kawasan yang terjadi seiring dengan revolusi di berbagai negara Arab). Namun, jika kita melihatnya dalam kacamata yang lebih lebih besar, kita dapat memahami mengapa karut marut Irak dan Afghanistan tak membuat Sang Adidaya surut untuk menekan negeri Para Mullah itu. Politik nuklir adalah elemen penting dari pilar hegemoni Amerika Serikat di sistem politik internasional yang sekarang kian goyah digerus perubahan.
Politik Hegemoni
Matthew Kroenig, pengamat keamanan di Council of Foreign Relations, adalah salah satu pendukung serangan AS terhadap Iran. Tokoh yang pernah menjadi penasehat khusus di Office of the U.S. Secretary of Defense pada periode 2010-2011 ini meletakkan judul yang lugas untuk artikel mutakhirnya di Foreign Affairs. “Saatnya menyerang Iran”, tegasnya.
Ia mengritik para penentang serangan dan menganggap mereka gagal memahami bahaya jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir. Tentu saja, ia berangkat dari asumsi bahwa Iran pasti akan mengembangkan kemampuan nuklirnya untuk kepentingan militer, meskipun Iran tegas-tegas menolak anggapan ini. Argumennya sederhana: serang sekarang, atau Amerika Serikat akan menyesal ketika Iran telah berhasil mengembangkan nuklir untuk kepentingan militer.
Argumen ini sebangun dengan pendapat-pendapat yang populer di kalangan penasehat keamanan Gedung Putih sebelum menyerang Irak, yang menggaungkan doktrin keamanan “rogue states”. Doktrin yang pertama kali diperkenalkan oleh Wolfowitz menjelang akhir Perang Dingin ini menegaskan bahwa salah satu ancaman utama bagi keamanan Amerika adalah negara-negara yang disebut “rogue states”, negara-negara yang dipimpin oleh para diktator yang mencari supremasi politik di kawasan dengan kekerasan. Irak dan Iran yang diberi label “rogue states” secara otomatis dilihat sebagai penjahat yang kata-katanya tak bisa dipercaya.
Namun, akar intelektual yang mendasarinya terpatri jauh lebih mendalam, yaitu pandangan bahwa Amerika Serikat adalah hegemon yang merupakan pilar penyangga perdamaian dunia. Pandangan positif tentang Amerika Serikat sebagai hegemon ini bahkan melampaui sekat dua aliran besar dalam hubungan internasional. Para penganut realisme menganggap Leviathan sebagai necessary evil yang diperlukan untuk menjaga stabilitas politik internasional. Sementara itu, para pemercaya liberalisme meyakini bahwa Amerika Serikat dapat menjadi ‘hegemon baik’ yang dapat menebarkan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi perdamaikan dunia, seperti demokrasi dan kebebasan.
Pandangan ini bergaung jelas di dalam argumen para pendukung serangan terhadap Iran seperti Kroenig. Dalam skenarionya, kekacauan yang akan terjadi jika Amerika Serikat menyerang Iran akan jauh lebih kecil dibandingkan kekacauan yang akan terjadi jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir. Dampak negatif serangan terhadap Iran, menurutnya, dapat ditekan dengan mengelola pesan yang disampaikan kepada pemerintah Iran (yaitu bahwa yang diinginkan AS adalah penghentian program nuklir dan bahwa pembalasan dari Iran justru akan berdampak negatif bagi Iran sendiri), membuka Cadangan Minyak Strategisnya, serta bekerja sama dengan mitra Amerika Serikat di kawasan seperti Arab Saudi dan Israel. Sebaliknya, Iran yang memiliki kemampuan nuklir akan mengacaukan sistem politik internasional di kawasan dan mengancam stabilitas global. Sifat senjata nuklir yang dengan cepat mengubah perimbangan kekuatan (balance of power) akan membuat AS kesulitan menerapkan kebijakan apapun di Timur Tengah, karena daya tawar Iran melesat pesat. Akan sangat sulit untuk menakut-nakuti Iran atau sekutunya yang membandel. Lebih jauh lagi, Israel dan Arab Saudi yang merasa terancam akan segera melibatkan diri dalam perlombaan senjata nuklir. Merasa terancam, Iran kemudian akan mempersenjatai negara sahabatnya dan kelompok-kelompok teroris dengan nuklir. Dalam skenario ini, perang nuklir memiliki kemungkinan yang besar untuk terjadi.
Dengan menjual ketakutan akan kekacauan yang lebih besar, para penabuh genderang perang menyatakan bahwa dampak serangan terhadap Iran sekarang adalah harga yang pantas untuk dibayar. Haram hukumnya membiarkan Iran sampai memiliki senjata nuklir, karena hal itu akan merubah sama sekali perimbangan kekuatan dunia. Immanuel Wallerstein, tokoh yang dikenal dengan teori sistem-dunia, menjaga monopoli nuklir adalah salah elemen penting dalam politik hegemoni Amerika Serikat.
Pertarungan Dua Jiwa Amerika
Agaknya, bukan kebetulan bahwa artikel Zbigniew Brzezinski yang terbit pada edisi Foreign Affairs yang sama ditutup dengan analogi yang menyejajarkan Amerika Serikat dengan Romawi. Jika di negara-negara pinggiran dalam politik internasional imperialisme selalu membawa konotasi negatif dan dicaci maki, di lingkaran intelektual Amerika Serikat, gagasan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah imperium bukanlah sesuatu yang selalu negatif. Banyak yang justru berpandangan bahwa kekuatan imperium Amerika, diterjemahkan secara umum sebagai kekuatan hegemon dalam sistem politik internasional, adalah berkah bagi semesta.
Johan Galtung, intelektual yang mendirikan Peace Research Institute Oslo, adalah salah satu tokoh yang rajin mengritik kecenderungan ini. Menolak disebut anti-Amerika, dia mengatakan bahwa ada dua Amerika Serikat yang berbeda: Amerika Serikat sebagai “imperium” dan Amerika Serikat sebagai “Republik.” Ia memuji Amerika sebagi Republik, tapi mencaci Amerika sebagai imperium. Ia memuji “Republik Amerika” sebagai entitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai mulia seperti kebebasan dan demokrasi. Sebaliknya, ia mengecam kuasa imperial Amerika sebagai “sistem kekerasan global yang diterapkan oleh Amerika Serikat yang ditujukan untuk melindungi kepentingan ekonomi Amerika Serikat”. Untuk kepentingan ekonomi tersebut, tutur Galtung yang juga meramalkan keruntuhan Amerika Serikat sebagai kekuatan imperial (bukan sebagai negara) pada tahun 2020, “serbuan budaya” (“cultural assault”) dan “pembunuhan dalam jumlah yang cukup banyak” (“a fair amount of killing”) adalah modus standar.
Pemisahan antara “imperium” dan “republik” a la Galtung ini mempermudah kita memahami politik luar negeri AS yang seringkali dijangkiti inkonsistensi. Retorika demokrasi dan kebebasan seringkali hadir bersamaan dengan perilaku arogan pendudukan, kekerasan, dan bagi-bagi kontrak pertambangan. Republik dan Imperium adalah dua jiwa Amerika yang bertentangan.
Sayangnya, jiwa Imperium seringkali membajak wajah Republik. Nilai-nilai kebebasan dan demokrasi seringkali digunakan sebagai dalih untuk melancarkan agenda imperial yang dilumuri kekerasan.
Lebih jauh lagi, justru para intelektualnya seringkali kesulitan membedakan jiwa imperial dan jiwa republik Amerika yang bertentangan itu. Teori “Democratic peace” yang indah itu, yang mengatakan bahwa sesama negara demokrasi tidak saling berperang, menjadi landasan intelektual yang digunakan untuk petualangan militer AS di Afghanistan dan Irak. Seperti disitir oleh ahli kajian hubungan internasional Tony Smith, banyak ahli yang kemudian menganggap invasi ke Afghanistan dan Irak merupakan upaya memperluas zona perdamaian demokratis (democratic peace zone) yang akan berdampak positif bagi perdamaian dunia. Dengan jiwa imperial yang menyaru sebagai jiwa republik, keganasan menjelma menjadi kepahlawanan.
Selain jiwa-jiwa manusia yang terkena pemboman, jiwa Republik Amerika adalah korban terbesar dari bertahtanya jiwa Imperial. Sheldon S. Wolin dalam Democracy Incorporated mencatat bahwa proyeksi hegemonik ke dalam menggerus demokrasi di Amerika sendiri, dengan korporasi-korporasi besar (yang kebanyakan perusahaan minyak atau berkaitan dengan militer) yang jauh lebih berpengaruh dari rakyatnya sendiri.
Nilai-nilai yang dimuliakan oleh Republik Amerika juga menjadi terhina karena disalahpahami. Bagi sebagian orang di Dunia Islam, citra yang hadir ketika mendengar kata “demokrasi” bukanlah kebebasan dan kesetaraan individu, tapi pemboman, penghinaan, dan penjarahan ladang-ladang minyak.
Empati adalah Kekuatan Sebenarnya
Duduk di atas seringkali membuat orang menjadi paranoid dan melihat ke bawah dengan penuh curiga. Rupanya hal ini pun berlaku dalam politik internasional. Duduk di puncak sistem politik dunia seringkali membuat pandangan para intelektual dan pengambil kebijakan di Washington merasa memahami segalanya tanpa perlu mendengar yang lain. Karena Iran sudah diberi label jahat, dia sama sekali tidak bisa didengar. Karena Israel adalah mitra utama, ia harus didukung penuh selamanya.
Semoga akal sehat dan jiwa Republik Amerika dapat memenangkan jihad melawan nafsu imperialnya.
Agaknya, nasehat dari filsuf Jerman Andreas Tenzer ini patut kita dengar: “siapa yang melakukan unjuk kekuatan sebenarnya sedang memamerkan ketidakberdayaan”
Shofwan Al Banna Choiruzzad
Sepertinya banyak yang tidak bisa memulai tahun ini dengan tenang. Ketegangan yang meningkat mengenai Iran jelas akan sangat berpengaruh pada kondisi perekonomian dunia.
Link ini mengantarkan kita pada Global Confidence Index, sebuah inisiatif World Economic Forum yang merangkum pandangan para tokoh di berbagai bidang mengenai beberapa tren global. Sebagian besar mengkhawatirkan adanya konflik geopolitik dalam 12 bulan ke depan. Laporan ini juga merekam peningkatan pesimisme terhadap kerja sama internasional.
“Barang siapa meringankan beban saudaranya di dunia, Allah akan meringankan bebannya di Hari Kebangkitan…”
-Rasulullah Muhammad SAW (diriwayatkan dalam Shahih Muslim)
Zaman ini, walaupun menawarkan banyak kesempatan, juga membawa serombongan kesempitan. Sikap kita terhadap kesempitan-kesempitan itulah yang akan menentukan apakah kita akan menjadi generasi yang menang atau tertaklukkan.
Kalau kita bicara kesempitan, mau tidak mau kita akan bicara tentang “ke-aku-an”, karena inilah yang sering menjadi awal dari hadirnya kesempitan-kesempitan. Sebagai contoh, saat kadar ke-aku-an kita terlalu tinggi, dunia terasa sempit saat kita mendengar saudara kita mendapatkan kebahagiaan. Setiap hari, kita bergelut dengan bisikan “Seharusnya AKU yang mendapatkan kebahagiaan itu.” Saat kadar ke-aku-an kita terlalu tinggi, kita merendahkan diri dengan tidak memanfaatkan kesempatan untuk menolong orang lain. Dunia sudah sempit, ngapain ngasih tempat buat orang lain?
Sayangnya, di zaman ini, ke-aku-an adalah semangat yang dicangkokkan untuk menggerakkan dunia. Bagi pengiman fundamentalisme pasar, pemujaan ke-aku-an adalah doktrin utama yang tidak bisa diganggu-gugat. Menurut mereka, ke-aku-an adalah sifat dasar manusia. Dan, sifat dasar manusia harus diakui dengan tidak membatasinya dengan campur tangan kekuatan eksternal apapun, termasuk agama atau negara, kecuali kekuatan tuhan bernama permintaan dan penawaran.
Lebih jauh lagi, banyak yang mengimani dengan yakin bahwa pemujaan terhadap ke-aku-an justru akan membawa kemanfaatan yang sebaik-baiknya bagi umat manusia. Saat seseorang mengejar ambisi pribadinya sendiri tanpa perlu mengulurkan tangan menolong orang lain, pada akhirnya efektivitas pasar akan membawa keuntungan untuk semua orang. Mana yang lebih baik: Bill Gates yang dermawan atau Bill Gates yang tidak usah peduli kemanusiaan tapi fokus berinovasi? Menurut para pengiman ke-aku-an, Bill Gates yang fokus pada bisnisnya lebih baik.
Tampilnya ke-aku-an sebagai doktrin yang menggerakkan dunia juga membuat banyak di antara kita percaya bahwa “menolong” itu “tidak menolong”. Kebijakan negara untuk menolong yang lemah, kata para peyakin ke-aku-an, justru mendistorsi pasar dan berdampak buruk pada semua orang. Kita juga tidak perlu repot-repot peduli pada orang lain. Kalau mau menolong, kata mereka, fokuslah pada ambisi pribadi anda. Mereka akan tertolong dengan sendirinya. Menolonglah dengan tidak menolong!
Sayangnya, kita harus mulai curiga bahwa doktrin “Menolong dengan tidak menolong” ini akal-akalan para pemuja ke-aku-an yang tidak ingin diminta peduli pada orang lain (seperti membayar pajak yang lebih tinggi, dikurangi bonusnya yang gila-gilaan, diminta zakat atau sedekah, dll). Mungkin juga ingin menipu diri sendiri: ingin egois tanpa merasa bersalah.
Faktanya adalah bahwa pemujaan terhadap ke-aku-an ini mengantarkan manusia dari satu krisis ke krisis lain. Ke-aku-an yang tak terkendali memicu spekulasi liar, karena toh nanti negara bertugas melindungi ke-aku-an ini dengan membail out (ironis karena mereka menentang negara membail out orang-orang miskin. Kalau yang super kaya raya harus dibail out karena akan berdampak sistemik). Trickle down effect yang dijanjikan ternyata tak sellu turun dari buku-buku diktat ke gubuk reot di pinggiran kota-kota, desa-desa, dan pedalaman.
Saya harus jujur bahwa saya masih terbata-bata belajar ekonomi, jadi saya tidak akan berfatwa bahwa sistem ekonomi ini dan itu buruk. Mungkin ada benarnya. Mungkin ada penjelasannya.
Saya hanya meyakini bahwa doktrin ke-aku-an tidak layak menjadi jiwa bagi kehidupan. “Menolong dengan tidak menolong” adalah kebohongan. Berbagi adalah kunci untuk mengubah kesempitan menjadi kesempatan. Menolong itu benar-benar menolong, untuk diri kita sendiri maupun yang ditolong, baik di dunia maupun di akhirat.
Mari memperjuangkan zaman kesempatan dengan bergandengan tangan. Menolong itu menolong!
Nicholas Kristof, jurnalis kenamaan yang meraih dua penghargaan Pulitzer, terheran-heran bagaimana Indonesia (dan Brazil), menjadi salah satu negara asal terbanyak dari para followersnya (lebih dari 60.000). Padahal, keduanya tidak berbicara bahasa Inggris.
Sebenarnya mungkin tidak terlalu mengejutkan. Pertama, hal ini tentu konsisten dengan besaran jumlah penduduk dan sebaran pengguna twitter. Indonesia dan Brazil ada di papan atas juga.
Kedua, ini catatan optimis yang pertama, meskipun secara keseluruhan proporsi orang yang mampu berbicara bahasa Inggris bukan mayoritas, kalau cuma untuk mencapai angka 60.000 pun bukan hal yang susah. Artinya, jika kita asumsikan bahwa yang bisa berbahasa Inggris adalah mereka yang memiliki posisi sosial yang memadai (mendapatkan pendidikan yang cukup atau bahkan pengalaman internasional), jumlah orang Indonesia yang siap berkompetisi di level global lebih banyak dari pada orang Singapura yang siap berkompetisi di level global. Tentu ini juga harus diiringi kesadaran bahwa artinya kesejahteraan juga belum merata.
Ketiga, ini juga seharusnya tidak mengejutkan karena barangkali penggemar berbagai produk budaya (termasuk jurnalisme) dari berbagai negara maju (dan mungkin belum maju tapi bisa dipandang lebih maju dari Indonesia) bisa ditemukan di negeri ini. Film-film Hollywood (dan Bollywood), laku keras. Bahkan upaya boikot pun batal karena permintaan yang tinggi untuk Film Harry Potter. Artis-artis musik juga demikian. Di tengah kesulitan ekonomi yang membelit banyak masyarakatnya, tiket supermahal untuk artis-artis seperti Justin Bieber atau Katy Perry tetap saja laku keras. Yang dari Korea dan Jepang juga diterima dengan antusias. Saya nggak habis pikir waktu Sensei saya menunjukkan video Youtube JKT 48 sambil ngakak.
Apa artinya? Kalau mau melihat sisi gelapnya ya mungkin pantas disebut inferiority complex. Yang lebih inferior cenderung lebih mudah untuk menerima proyeksi “soft power” dari yang lebih kuat.
Tapi mari coba lihat sisi cerahnya juga. Salah satu berkah dari posisi “di bawah” (sebagai individu maupun sebagai entitas yang lebih besar seperti lembaga, negara, ummat), adalah keterbukaan dan kesediaan untuk mengamati dan mempelajari semua pelajaran dari yang di “atas”, “samping”, dan di “bawah”-nya. Ini yang sulit dimiliki mereka yang di atas. Amerika Serikat, karena di atas, seringkali tak pernah melihat apa yang terjadi di bawah tapi mengklaim dialah yang paling tahu. Jadi, bersyukur juga kita sementara ada di “bawah”, jadi semangat untuk belajar dari siapapun. Dari kemauan untuk belajar dari siapapun inilah kita bisa melompat ke atas. Tanpa kehilangan mawas.
Semoga.
Mari perjuangkan zaman kesempatan.
NB: link yang di atas (saya dapat dari @chikupunya) adalah website yang berisi bahan-bahan perkuliahan berbagai universitas di dunia. Kini, kita bisa mengunduhnya dengan mudah dan murah. Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan zaman kesempatan!
Hiruk pikuk mobil nasional yang dipicu oleh Esemka mungkin akan segera reda. Namun, ia tetap mampu membuat pendar harapan tetap ada.
Saya bukan hendak bertutur soal Jokowi dan keberpihakannya yang menginspirasi atau ulah politisi lain yang mengikuti demi citra diri. Kalau cuma sebagai fenomena politik, ia tak akan bertahan lama dan akan segera ditimpa kabar-kabar lainnya. Fenomena ini adalah bagian kecil dari perubahan besar yang menggulung dunia hari ini, mengantarkan kita pada masa depan yang mungkin datang lebih cepat.
Ia adalah salah satu gejala bahwa inovasi tak lagi terkungkung di pusat-pusat tradisionalnya. Sekat-sekat yang dahulu tak terlompati kini semakin tak berarti. Sebelum ramai-ramai soal SMK ini, anak dari keluarga tak mampu terbukti mampu membuat antivirus yang dahsyat. Itu juga gejala dari satu kecenderungan yang sama.
Apa artinya?
Ini adalah zaman kesempatan. Kalau pengetahuan adalah kekuatan (“knowledge is power”), maka terdistribusinya pengetahuan dengan lebih mudah akan peta kekuatan dunia benar-benar berubah. Kita yang berada di negara berkembang pun memiliki kesempatan untuk menyamakan kecepatan lari kita atau bahkan melampaui laju negara maju. Dengan basis talenta yang surplus, bandingkan dengan negara-negara maju yang usia produktifnya semakin menyusut proporsinya, ini adalah zaman kesempatan.
Masalahnya adalah: apakah kita mampu memanfaatkan uluran tangan dari sejarah?
Saya berdoa supaya kita tak perlu lagi mengutip Schiller (karena Hatta yang kecewa juga pernah mengutipnya):
“Suatu abad besar telah lahir. Namun, ia menemukan generasi kerdil.”
NB: Tulisan ini saya pindah dari keterangan link yang kemarin supaya lebih teratur.